22 Jam Terombang-ambing Di Lautan Dengan Kapal Laut Oasis: Cerita Perjalanan Keliling Lombok Part 1 - alamatbima

22 Jam Terombang-ambing Di Lautan Dengan Kapal Laut Oasis: Cerita Perjalanan Keliling Lombok Part 1

22 Jam Terombang-ambing Di Lautan Dengan Kapal Laut Oasis: Cerita Perjalanan Keliling Lombok Part 1


Alamatbima.com,- Halo kembali bersamaku melankolis muda. Hmmm, cerita tentang perjalanan. Hobi yang sedang digandrungi oleh umat manusia. Yang saat ini hanya menjadi hobi dan keinginan semu nan fana karena pandemi masih saja enggan untuk beranjak. Oke, tanpa panjang lebar. Kali ini aku bakalan nyeritain pengalaman saat 22 Jam Terombang-ambing Di Lautan Dengan Kapal Laut Oasis. Itu semua aku alami saat perjalanan untuk keliling Lombok. 

Pada akhir tahun 2019, yang saat itu keadaanku masih jauh terbilang dari baik. Setelah menjalankan operasi bedah besar pada tubuh dan diharuskan untuk bed rest selama 2 bulan bukan kondisi yang baik kan? Ya itulah yang ku alami. Melalui obrolan-obrolan chat bersama beberapa teman. Tercetus ide dan keinginan untuk keliling Lombok. Ya mungkin pada kala itu aku hanya tersenyum.

Hampir sudah 2 bulan berlalu. Kembali aku ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan berkala secara rutin. Hasilnya pun sudah sangat bagus. Aku mulai mengendarai motor sendiri. Melakukan kegiatan-kegiatan luar ruangan. Sampai olahraga sedang pun sudah terbiasa aku lakuin. Dan itu semua aku jalani akhirnya bulan Februari tiba. 

Teringat ide dan keinginan untuk berkeliling Lombok, aku pun menanyakan kembali kepada temen-temen. "Jadi gak?" Dan ternyata semua bilang oke. Hingga diputuskan semua akan bertemu di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada tanggal 12 Februari. Terkesan mendadak, tapi kalau yang namanya jalan-jalan mah aku selalu semangat. Apalagi setelah penuturan dari dokter aku sudah baik-baik saja.


22 jam terombang-ambing di lautan
Prepare Barang Bawaan Sebelum Berangkat
Tanggal 12 Februari. Dari Lumajang menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Naik kereta namun tak istimewa karena aku tak duduk dimuka (ini bukan delman). Dari stasiun Klakah, kereta pun berjalan dengan kecepatan yang mungkin terlihat pelan. Namun kenyataannya cepat. Membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk sampai di Stasiun Gubeng. Ya itu stasiun paling dekat dengan pelabuhan.

Bertemu dengan salah satu mahasiswa yang ingin kembali ke kampung halaman di kereta. Bercerita ini itu dan banyak sekali dengannya. Entah aku suka cepat akrab bila bertemu dengan orang baru. Aku bersyukur dengan itu karena dengan hal tersebut aku bisa mempunyai teman yang banyak sampai saat ini. Saking asyiknya sampai tak terasa kereta pun hampir tiba. Dan aku bersiap untuk turun.

Dari stasiun, aku telusuri jalanan Surabaya dengan jalan kaki sejenak. Mengenang kenangan saat masih itu dengan statusnya tak demikian. Menyempatkan makan pecel pinggir jalan. Sampai akhirnya salah bertemu dengan 2 orang temen yang nantinya bakalan seperjalanan menuju Lombok.


22 jam terombang-ambing di lautan
Dimanapun Harus Tetap Eksis
Sesampainya di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, shock langsung menerjang. Bukan karena kejadian aneh atau apa. Tapi karena "PANAS" yang minta ampun. Baru pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pelabuhan ini. Sasaran utamanya cari tiket kapal laut dulu. Sembari menanti temen-temen lain yang belum pada dateng. Pilihan jatuh ke Kapal Laut Oasis. Lumayan, nyobain armada baru. Harga tiketnya sih aku dapet 125 plus voucher makan. Seingetku voucher makannya 25 apa 30 gitu (maap pelupa banget).

Waktu semakin sore. Waktunya mencari tukang kopi. Menyambut inspirasi kan butuh banget yang namanya kopi. Dinikmati beberapa menit sampai akhir Maghrib nampaknya sudah hampir tiba. Saatnya menuju ke ruang tunggu. Eh, ternyata belum dibuka. Tak lama kemudian salah satu temen Blogger Surabaya hadir menemani aku dan yang lainnya. Yah, hanya obrolan santai saja sih hingga beliau pamit untuk pulang.


22 jam terombang-ambing di lautan
Eksis Barengan Juga Perlu
Waktu semakin malam. Menunjukkan pukul 9 Malam dan akhirnya ruang tunggu dibuka. Menunggu kapal bersandar sejenak sampai akhirnya diperbolehkan untuk menuju ke kapal. Rasanya deg-degan. Karena bakalan lama banget diatas lautan.

Berjalan agak cepat mencari posisi masing-masing untuk menempatkan barang dan tidur. Alhamdulillah, dapet. Jadi tak khawatir bila ingin istirahat. Karena memang posisinya sudah capek dan ingin sekali merebahkan badan. Kapal pun beranjak dari dermaga. Terasa getaran-getaran dan suara nyari ditelinga. Dan aku memilih untuk tidur.

Pagi buta menjelang. Sunrise rasanya menyambut dengan hangat. Tak terasa sudah beberapa jam terombang-ambing diatas lautan. Ku sempatkan untuk berkeliling mengitari kapal. Menuju ke musholla, cuci muka di kamar mandi, sampai nongkrong di tempat ngopi dan smoking area (ini area favorit). Bersebelahan dengan smoking area juga ada area bermain anak untuk anak-anak. 

Ditengah lautan, apa yang kamu bayangin? Aku awalnya takut. Bagaimana tidak? Bakalan lebih dari 20 jam terombang-ambing di lautan. Ngeri kan kalau ada apa-apa. Mana sinyal susah lagi. Tapi rasa takutku di awal menghilang dalam sekejap ketika merasakan nyamannya suasana dan kondisi di atas Kapal Oasis ini. Kamar mandinya bersih. Tempat tidur nyaman (terbukti dengan bisa tidur nyenyak semalem). Musholla bersih juga. Tempat ngopi dan smoking area-nya full musik pula. Kurang apa coba?


22 jam terombang-ambing di lautan
Menu Makan Siang Di Kapal Oasis
Semakin siang semakin lapar. Waktunya ngambil makan dengan voucher yang udah digenggaman. Mau tau apa lauk dan sebanyak apa porsinya sih. Di luar dugaan ternyata manteb. Porsi pas, tak banyak maupun tak sedikit. Pas lah pokoknya. Lauknya enak lagi. Aku gak tau sih namanya apa. Yang pasti enak gitu dah.

Selepas makan, lanjut kembali buat ngopi. Bikin-bikin puisi ala-ala Wira Negara sang stand up comedian. Buat si doi padahal lagi jomblo. Iseng-iseng bikin video. Ehh gak taunya dapat kenalan baru dari Jakarta. Yang lagi traveling barengan rame-rame. Seru juga liat mereka. Jadi iri. Lebih muda jauh dari aku tapi udah sampe mana-mana.


22 jam terombang-ambing di lautan
Keindahan Sunset Memang Tak Perlu Diragukan
Hari semakin beranjak. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sunset sudah nampak di kejauhan. Langit semakin gelap di timur namun semakin indah di bagian barat. Ini adalah kali pertama menikmati sunset dengan segelas kopi diatas kapal. Terombang-ambing diatas lautan pun terasa menjadi pengalaman yang wah bagiku. Pastinya tak lupa aku abadikan momen berhargaku ini dengan beberapa foto dan video. Yah entah nanti bakalan bisa mengulang momen apa tidak.

Setelah malam menjelang. Sinyal pun sudah menjadi lebih stabil. Pertanda pelabuhan Lembar Lombok sudah dekat. Mulailah aku dan yang lain berkemas. Bersiap untuk turun. Dermaga pun sudah terlihat. Germelap cahaya lampu yang indah. Suasana yang asing banget. Yaps, first time I came to Lombok. Genap 22 jam terombang-ambing di lautan dengan Kapal Laut Oasis. Semakin tak sabar menyambut esok hari untuk berkeliling Lombok. Dan pastinya rasa syukur yang pertama ku lakukan ketika kakiku menginjak tanah pulau Lombok.


22 jam terombang-ambing di lautan
Menginjakkan Kaki Di Lombok Untuk Pertama Kalinya
Itulah ceritaku saat terombang-ambing di lautan dengan Kapal Laut Oasis. Ketika keinginan direalisasikan dengan cara yang terkesan mendadak. Tapi membuahkan pengalaman yang luar biasa untuk diceritakan. Selanjutnya bakalan ada cerita tentang Perjalanan Keliling Lombok Part 2. Tunguin aja.
Terima kasih

22 Jam Terombang-ambing Di Lautan Dengan Kapal Laut Oasis: Cerita Perjalanan Keliling Lombok Part 1




Please write your comments