Blog Yang Berisi Tentang Pengalaman Jalan, Keliling, Kegalauan Dan Sedikit Gado-gado

Kamis, 05 Mei 2016

Sang Pengantar Surat


            Siapa yang tidak tahu R.A. Kartini? Yah, seorang pejuang kaum perempuan di era Hindia Belanda tengah menjajah bumi pertiwi Indonesia. Dialah sosok yang sangat dikagumi oleh kaum hawa, dengan kata-katanya yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang yaitu habis gelap terbitlah terang. Dengan sosok yang seperti itu, snagat dibanggakan oleh bumi pertiwi bahwa dahulu di bumi pertiwi pernah ada seorang yang sangat mencitai tanah kelahirannya, sangat menghormati orang tuanya, dan sangat ingin meninggikan derajat kaum wanita di bumi pertiwi Indonesia.
            Pada bulan April 2016, ada kabar bahwa seorang tokoh pejuang Indonesia yang dijadikan sebagai cerita dalam film layar lebar. R.A. Kartini ada seorang tokoh pejuang tersebut yang dijadikan film yang berjudul Surat Cinta Untuk Kartini. Pada mulanya saya tidak terlalu tertarik dengan film tersebut. Namun pada akhirnya, saya mendengar bahwa film yang berjudul Surat Cinta Untuk Kartini ini sangat menghebohkan. Dan juga ketika melihat antusiasme para penggemar film Indonesia yang mengatakan film ini adalah film yang yang patut untuk ditonton.
            Setelah sepekan saya hanya mendengar desas-desus, cerita-cerita dari teman mengenai film Surat Cinta Untuk Kartini akhirnya saya melihat secara langsung. Dalam acara nobar di salah satu bioskop yang ternama di Jakarta. Kesan pertama yang dirasakan adalah rasa ingin tahu yang sangat menjadi-jadi, apakah iya yang dikatakan oleh orang-orang mengenai film ini.
            Ketika film sudah diputar, yang pertama dimulai yaitu tentng seorang guru perempuan yang ingin bercerita kepada anak didiknya, namun anak didiknya tidak mau. Akhirnya seorang guru laki-lakilah yang bercerita. Dari awal intro filmnya sangat menarik, tidak monoton karena biasanya intro film yang cenderung masuk dalam cerita yang ingin dipersembahkan kepada penonton. Dalam cerita yang dibawakan oleh guru laki-laki tersebut diceritakan adalah seorang pengantar surat pada zaman penjajahan Hindia Belanda di bumi pertiwi. Dia bernama Sarwadi, dia duda yang telah memiliki seorang anak perempuan yang bernama Arum. Istrinya meninggal ketika melahirkan Arum. Sarwadi membesarkan Arum seorang diri.
            Dalam bekerja mengantarkan surat, Sarwadi mengantarkan surat ke kantor Bupati Jepara. Pada saat itu pula dia melihat pertama kali seorang Kartini, seorang gadis sekaligus anak dari Bupati Jepara. Sarwadi, seketika terkesima melihatnya. Dari saat itu Sarwadi memiliki perasaan terhadap Kartini. Perjalanan hidup Kartini pada saat itu sangat diperhatikan oleh seorang Sarwadi sang pengantar surat. Ketika seorang Kartini ingin mengajar anak-anak perempuan di tanah kelahirannya, Sarwadi antusias dengan hal tersebut. Bahkan dia ingin pula Arum anaknya diajar dan sepintar seorang Kartini. Seorang Sarwadi pada saat itu langsung menyiapkan tempat itu mengajar Kartini. Memang tempatnya tidak seperti gedung, namun ada di alam terbuka. Pada permulaan Kartini mengajar, hanya seorang Arum anak seorang Sarwadi yang hadir. Namun seorang Kartini tidak menyerah begitu saja. Kartini datang ke kampung-kampung masyarakat mengajak para orang tua untuk membiarkan anak-anaknya belajar bersama Kartini. Tidak mudah untuk Kartini menyakinkan para masyarakat. Namun pada hari-hari berikutnya banyak anak yang datang untuk belajar bersama Kartni.
            Sarwadi masih terus saja memperhatikan Kartini. Rasa asmaranya semakin menjadi saja. Pernah seketika seorang Sarwadi jatuh sakit karena mendengar bahwa anak dari Bupati Jepara dipinang oleh salah satu keturunan ningrat. Namun sahabat dari Sarwadi menyadarkan dan memberi sepucuk surat untuk Sarwadi, dan Sarwadi langsung sehat walafiat. Namun semua itu hanya bohong belaka yang dilakukan oleh sahabat Sarwadi tersebut dan akhirnya sahabat dari Sarwadi jujur dan juga mengatakan bahwa yang dipinang bukanlah Kartini melainkan adiknya. Sarwadi sang pengantar surat sudah tidak lagi patah hati.
            Pada kemudian hari, Kartini mendirikan sekolah di kediamannya. Namun tidak berselang lama kabar pernikahan Kartini terdengar kembali. Namun untuk kali ini kabar tersebut tidaklah hanya kabar, namun memang benar-benar akan terlaksana. Kartni langsung jatuh sakit dengan hal tersebut. Lain hal dengan Sarwadi sang pengantar surat, dia yang selalu memperhatikan Kartini selalu memberikan suport agar Kartini menolak pinangan tersebut dan terus melanjutkan cita-citanya yang ingin meninggikan kaum hawa dengan mendirikan sekolah bumi putera. Tapi seorang Kartini juga seorang anak, yang mau tidak mau harus patuh terhadap orang tua, apalagi Kartini sudah tidak muda lagi dan harus menikah. Pada saat satu kesempatan, seorang Sarwadi bertemu dengan Kartini di pantai. Pada saat itulah seorang Sarwadi sang pengantar surat menyatakan cintanya. Namun apa daya itu hanya sebuah pernyataan.
            Beberapa lama kemudian Kartini menikah. Setelah pernikahan Kartini, Sarwadi sang pegantar surat berhenti dari pekerjaannya. Dia pindah dari Jepara ke Semarang dan bekerja sebagai seorang petani disana. Anak dari seoarang Sarwadi yang memang telah mengenyam pendidikan dari seorang Kartini tetap belajar dan terus belajar. Dan akhirnya seorang Arum menjadi seorang pengajar di tempat tinggalnya. Ini membuat seorang Sarwadi menjadi bangga, dan tahu bahwa perjuangan dari Kartini tidaklah sia-sia yang pada mulanya dia mengira bahwa itu tidak akan ada hasilnya. Kini Sarwadi sadar akan perjuangan yang dilakukan Kartini. Suatu hari Sarwadi mengajak Arum ke tempat Kartini yaitu Rembang. Ketika Sarwadi dan Arum sampai di Rembang. Mereka kaget karena seorang Kartini yang mereka hormati telah meninggal. Tapi Kartini menitipkan sebuah surat kepada Sarwadi.

            Setelah menelaah kisah yang ditampilkan dalam kisah Surat Cinta Untuk Kartini, kisah begitu nampak bahwa kisah ini merupakan kisah cinta. Namun dalam kisah cinya tersebut tidak hanya sebuah kisah cinta biasa yang dituangkan, namun efek komedi, latar cerita, dan masalah yang timbul juga memberikan kesan yang sangat bagus. Pesan moral yang ditampilkan oleh sang pembuat film juga sangat mengena. Dan setelah saya menonton sendiri, saya tahu bahwa film ini memanglah tidak main-main dan sangat bermutu.

1 komentar:

About