Blog Yang Berisi Tentang Pengalaman Jalan, Keliling, Kegalauan Dan Sedikit Gado-gado

Rabu, 24 Februari 2016

Berjuta Cerita di Kereta Rel Listrik



            Kereta rel listrik sangatlah berpengaruh dalam lalu lintas Jabodetabek. Sebagai warga yang menetap di Jakarta, pastinya gua sering melakukan perjalanan menggunakan Kereta Rel Listrik atau yang biasanya di kenal dengan nama KRL. Perlu diketahui kalau sebenarnya KRL ini sangat membantu warga yang ingin bepergian dengan biaya murah untuk daerah Jabodetabek. Dengan hanya biaya Rp.2000,- untuk jarak pertama dan Rp.1000,- setiap penambahan 5 km selanjutnya kita bisa keliling Jabodetabek. Yah termasuk gua ini, sebagai mahasiswa yang sering bepergian keliling.


            Gua punya sedikit cerita nih. KRL yang ada sebenarnya ada di kenyataan gak istimewa seperti yang gua bayangkan dulu ketika belum di Jakarta. Semula yang gua bayangin nih, KRL itu dingin teratur, dan aman. Tapi itu salah besar. Sejak baru pertama mencoba menggunakan angkutan masal yang bisa menganggut mungkin 1000 orang lebih ini, gua langsung disuguhi dengan kepadatan antrian masa yang juga ingin menggunakan KRL. Dan ketika dalam gerbong kereta ternyata penuh sesak dengan masa yang berdesakan. Bahkan sering juga terjadi tindak kriminal di KRL, baik kriminal pencopetan maupun juga tindak asusila terhadap kaum perempuan.

            Tapi dibalik itu semua. Gua sering melihat hal-hal unik yang terjadi di KRL. Hal ini gak pernah aku temui sebelumnya. Ternyata di KRL terbentuk sebuah pola yang sebenarnya dapat dipahami. Pola ini diciptakan oleh para pengguna KRL itu sendiri. Pertama, karena wanita sangat dipriorotaskan dalam KRL ini, jadi ya dibuatlah gerbong khusus wanita. Tapi anehnya, satpam penjaga yang ada di gerbong khusus wanita bukanlah wanita melainkan laki-laki. Jadi apakah sebenarnya yang terjadi? Gerbong khusus wanita ada seorang laki-laki didalamnya. Pada saat pengumuman dari pusat informasi yang ada dalam KRL juga sering diucapkan bahwa gerbong paling depan dan paling belakang adalah khusus wanita. Seharusnya yang diucapkan oleh pusat informasi ada ata terkecuali satpam, atau satpam laki-laki diganti wanita, agar tepat dalam penggunaannya.

            Bukan hanya itu sebenanya pola yang terjadi. Para masa yang berebut masuk ke dalam KRL itu sebenarnya mirip dengan kenyataan didunia. Para manusia yang berebut tempat untuk duduk dengan nyaman, jika tidak duduk setidaknya dapat berdiri dengan pegangan yang nyaman dan aman. Untuk itu semua pastilah bharus ada pengorbanan yang terjadi, dimana kita harus berdesakan, masuk cepat-cepat, bahkan tak jarang harus rela bersenggolan adu kekuatan tubuh saat ingin masuk berebut. Yah seperti itulah kehidupan yang terjadi didunia, manusia haruslah penuh dengan pengorbanan yang harus dilakukan untuk hidup dengan nyaman. Tapi, saat kita duduk kadang kita harus mengalah untuk berdiri karena mempersilahkan orang yang lebih membutuhkan. Kali ini sama lagi seperti kehidupan, bahwa kita juga harus  saling berbagi dan menolong, karena didunia ini bukan milik kita sendiri.

            Cerita-cerita banyak terbentuk di KRL Jabodetabek. Pengalaman yang gua dapatkan sangatlah banyak dan menarik. Ketika harus ikutan berdesakan dan berebut dalam KRL, berdiri dari start sampai finish karena gak kebagian tempat duduk, ada juga gua sampai dapat tidur-tiduran di dalam gerbong karena begitu longgarnya. Namun yang sangat berkesan yaitu saat gua bisa selfie-selfie dalam gerbong KRL. Itu terjadi dua kali selama pengalaman gua naik KRL, yang pertama saat gua dari Depok mau balik ke Jakarta, karena begitu sepinya gua dan temen-temen yang lain bisa foto-foto di gerbong. Nah yang kedua saat bepergian mau ke Bogor. Saat ini gua sama temen satu kelas bareng-bareng ke Bogor, sekali lagi gua foto-foto bareng sama temen-temen. Bahkan gua juga bisa foto salah seorang satpam yang menjaga gerbong.

            Gerbong KRL juga bagaiman panggung teater yang ada sekilah dalam kehidupan. Selama gua menggunakan KRL begitu banyak orang yang silih berganti berkenalan satu sam lain. Tapi sekarang tak pernah bertemu kembali. Tak jarang pula gua melihat seorang laki-laki yang pura tertidur agar gak berdiri karena ada wanita didepannya. Itu sering kali terjadi dan kerap gua lihat. Kadang juga kerap gua lihat satu keluarga yang barebf naik KRL, mereka bercengkerama, bergurau, dan saling menjaga satu sama lain. Itulah yang kadang membuat gua iri, kadang juga terpitas pikiran dan keinginan, “kapan gua bisa bareng-bareng bisa menikmati angkutan masal yang di Indonesia tergolong masih sangat langka ini”. Yah mungkin sih suatu saat nanti gua bisa, itulah yang selalu akhir pemikiran gua.

            KRL sebenarnya bukan hanya angkutan masal yang bisa mengangkut ribuan masa dalam satu rangkaian kereta, tapi juga saran untuk berlibur, yah meskipun hanya bagi mahasiswa yang kekurangan piknik kayak gua ini hehe. Juga sebagai transportasi yang tepat walau harus berdesakan. Tapi cobalah naik KRL saat hari biasa dan jam orang bekerja, maka kalian aka dapat merasakan betapa nyamannya angkutan masal ini. Naiklah KRL dalam perjalanan yang mungkin bisa ditempuh dengan KRL, karena dengan begitu kita juga membantu pemerintah, menghargai pemeritah, serta juga membatu pemerintah memecahkan solusi macet yang kerap kali terjadi.

0 komentar:

Posting Komentar

About